Setelah sempat tertekan akibat kekhawatiran suku bunga tinggi, emas kembali menunjukkan dominasinya di pasar global. Reli XAU/USD dalam tiga hari terakhir bukan sekadar reaksi terhadap satu data ekonomi, melainkan mencerminkan perubahan besar dalam ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pemicu utamanya datang dari laporan pasar tenaga kerja AS. Data Nonfarm Payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi hanya mampu menciptakan sekitar 57.000 lapangan kerja pada Juni, jauh di bawah konsensus pasar yang berada di kisaran 114.000–115.000 pekerjaan. Perlambatan ini menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi AS.

Di saat yang sama, tingkat pengangguran tercatat sekitar 4,2%, sementara pertumbuhan lapangan kerja yang melemah memperkuat pandangan bahwa kebijakan moneter ketat mulai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi. Bagi investor, data tersebut mengurangi urgensi bagi Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Perubahan ekspektasi tersebut langsung tercermin di pasar keuangan. Indeks Dolar AS (DXY) melemah, sementara imbal hasil Treasury AS, terutama tenor 10 tahun dan 3 tahun, ikut turun karena investor meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga acuan telah mendekati puncaknya. Penurunan yield menjadi katalis utama bagi emas, karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil sehingga menjadi lebih menarik ketika biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas menurun.
Akibatnya, harga XAU/USD berhasil menembus area US$4.170 per ounce, sekaligus mencatat reli selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan ini juga membuka peluang bagi emas untuk membukukan penguatan mingguan pertama setelah beberapa pekan berada dalam tekanan akibat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish.
Menariknya, reli emas kali ini tidak hanya didorong oleh pelemahan dolar AS. Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor pendukung yang kuat. Perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju, meningkatnya risiko geopolitik, serta berlanjutnya akumulasi emas oleh berbagai bank sentral membuat permintaan terhadap aset safe haven tetap tinggi. Data beberapa tahun terakhir juga menunjukkan bahwa pembelian emas oleh bank sentral global berada pada level historis yang tinggi sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa.
Meski demikian, jalan emas menuju kenaikan yang lebih tinggi belum sepenuhnya mulus. Inflasi AS masih berada di atas target 2% yang ditetapkan Federal Reserve. Artinya, bank sentral masih memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama apabila tekanan inflasi kembali meningkat. Selain itu, setiap komentar hawkish dari pejabat The Fed maupun data inflasi yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memicu aksi ambil untung setelah reli tajam yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Untuk saat ini, arah pergerakan emas akan sangat bergantung pada dua faktor utama, yaitu perkembangan data ekonomi Amerika Serikat dan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve. Selama data ekonomi terus menunjukkan tanda-tanda perlambatan, dolar AS tetap berada di bawah tekanan, dan imbal hasil Treasury bergerak menurun, prospek XAU/USD masih cenderung positif. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pasar mulai mengalihkan fokus dari kekhawatiran inflasi menuju risiko perlambatan ekonomi, sebuah lingkungan yang secara historis sering kali menjadi katalis kuat bagi penguatan harga emas.
Ade Yunus ST, WPA : Global Market Strategies