Maxco.co.id – Pasti traders pernah mengalami tersentuhnya stop loss yang kita set tepat setelah itu harga berbalik arah hingga mencapai target profit sebelumnya di awal. Seolah-olah pergerakan harga yang kita lihat di layar itu memiliki mata yang sengaja sentuh setiap stop loss traders. Akhirnya traders bertanya-tanya, apakah dibalik setiap pergerakan besar ada suatu entitas yang menggerakan harga?. Disitulah suatu konsep lahir, sering disebut smart money concept (smc). Apakah bisa di praktekkan di trading emas untuk cari cuan? simak artikel ini sampai akhir ya traders.
Teori Smart Money Concept Dalam Trading
Konsep SMC ini sederhananya kita mengikuti setiap pergerakan besar (smart money) dari para big player yang bisa menggerakan kemana harga bergerak. Big player yang dimaksud dalam smc ini bisa institusi besar seperti bank sentral atau hedge funds.
Mereka mengelola aset miliaran dollar yang bisa benar-benar menggerakan harga pada chart.Ini bukan sebuah mitos, melainkan terjadi karena prinsip dasar pasar.

Pada dasarnya ketika permintaan pasar mengalami kenaikan, maka harga akan bergerak naik. Begitu juga ketika permintaan turun, harga bergerak turun. Hanya saja bedanya dengan aset sebesar itu, wajar saja ketika institusi sedang “jualan” pastinya dalam jumlah yang masif, tidak heran jika harga suatu aset misalnya emas bisa turun secara tiba-tiba.
Disinilah traders dengan metode smc ini bekerja, mereka memanfaatkan jejak yang ditinggalkan oleh “paus” agar tidak hanyut di ombak besar (di market) dan mengikuti kemanapun trend itu bergerak.
Mengapa Trading Emas dengan SMC Itu Efektif?
Emas atau xauusd adalah aset dengan perubahan harga (volatilitas) yang tinggi. Apalagi kondisi saat ini di tengah banyaknya isu dari sisi geopolitik, dan makro ekonomi secara keseluruhan (faktor fundamental). Saat ini range pergerakan di time frame kecil sekalipun sudah luar biasa besar.

Sehingga konsep smc ini bahkan jika ingin di praktekkan di time frame kecil sekalipun bisa sangat efektif, karena pembentukan chartnya sudah jelas. Berbeda halnya dengan aset lain, apabila suatu aset tersebut kurang liquid hasilnya apabila dilihat menggunakan time frame kecil bentuk chartnya kurang begitu bagus untuk dianalisa.
Komponen Utama Strategi Smart Money Concept (SMC)
Sebelum memahami bagaimana cara mempraktekkan metode smc ini, traders perlu mengetahui 3 komponen utama smc. Kita akan bedah satu per satu dengan bahasa sederhana.
1. Struktur Market
Struktur market harus dipahami betul oleh traders apabila ingin menggunakan metode smc ini. Simpelnya dengan struktur market ini kita tau kapan harga bergerak naik, kapan harga dikategorikan sedang turun.

Ada istilah yang sering digunakan pada penggunaan metode smc, khususnya ketika membahas struktur market yaitu :
- BOS atau break of structure, yaitu penembusan struktur market. Misal harga terus menembus harga tertinggi sebelumnya menandakan trend naik. Sebaliknya jika harga terus menembus harga terendah sebelumnya artinya trend turun.
- ChoCH atau change of character, yaitu sinyal awal bahwa harga akan balik arah. Bisa dikatakan perubahan dari kondisi trend naik ke trend turun atau sebaliknya. Seperti berikut ini :

2. Order Block
Order block ini bisa dikatakan jejak institusi meletakkan order. Nah, di area inilah kita akan “follow” the big guys. Artinya kita ikut trend utama pasar yang pergerakannya masif, tentu potensi profitnya juga besar jika traders ada diposisi yang tepat saat awal trend itu terjadi.
Secara teknikal kita bisa melihat order block itu di area swing high atau swing lownya dengan lebih spesifik seperti berikut ini :
- Bullish Order Block, Candle merah terakhir sebelum ada kenaikan impulsif
- Bearish Order Block, Candle hijau terakhir sebelum ada penurunan impulsif seperti berikut ini:

3. Imbalance (Ketidakseimbangan)
Ketidakseimbangan ini merupakan area yang bisa jadi “celah” yang kita incar untuk jadi area entry. Di zaman sekarang ketika konten-konten trading mulai membludak ada istilah lain yang muncul yaitu fair value gap atau FVG, namun pada prinsipnya imbalance dan FVG itu sama, dengan contoh sebagai berikut :

Ada analogi yang bisa menggambarkan kenapa kita mencari harga yang wajar untuk jadi area entry posisi saat trading.
Misalnya ada seorang pengusaha roti yang memproduksi roti untuk dijual sebanyak 100 pcs dalam satu hari dengan harga per pcs nya Rp.10.000,-. Dalam satu hari ternyata roti tersebut ludes terjual. Akhirnya di hari berikutnya ia coba jual dengan harga Rp. 15.000,-. Ternyata hanya laku 50 pcs saja. Maka di hari berikutnya lagi ia coba turunkan harga roti tersebut ke Rp. 14.000,- dan hanya terjual 80 pcs saja. Akhirnya ia turunkan lagi ke Rp. 13.000,- barulah kuota roti tersebut terjual semua dalam sehari.
Intinya si penjual roti tadi mencari harga wajar. Tidak terlalu mahal untuk dibeli konsumen dengan tetap ada selisih sebagai keuntungan, dan tidak terlalu murah juga hingga bisa membuat pedagang tadi mengalami kerugian dengan margin yang tipis.
Namun pengaplikasian area imbalance saat trading, adalah saat traders mencari area terbaik sebelum harga melanjutkan kembali trend besarnya entah itu naik atau turun. Berikut contoh metode smc sederhana yang bisa dipraktekkan traders sebagai berikut :

1. Terkonfirmasi up trend dari penembusan struktur market (BOS), dalam hal ini high terus ditembus harga.
2. Tandai area order block, karena dalam posisi up trend, maka kita fokus ke bullish order block.
3. Setelah harga masuk ke area order block dan terdapat perubahan karakter (CHoCH) disana sekaligus terbentuknya area imbalance atau FVG.
4. Entry di area bullish order block atau bisa juga di area FVG dengan target ke high sebelumnya.

Kesimpulan
Pengaplikasian smc ini bisa dimulai dari cara simpel yang sudah dijelaskan tadi. Walaupun masih ada pengembangan metode yang lebih kompleks yang belum dibahas di artikel ini, dengan konsep sederhana seperti ini saja sebenarnya sudah cukup untuk bisa cari peluang profit di market.
Traders tentu harus uji terlebih dahulu metodenya, bisa menggunakan akun demo di Maxco dengan klik link berikut. Akhir kata, setiap metode itu bagus, tergantung bagaimana cara si pengguna menggunakannya saja. Sampai bertemu di artikel selanjutnya!