Maxco Futures – Pasar keuangan global memasuki salah satu momen paling krusial minggu ini dengan rilis data Inflasi AS (CPI) Februari yang dijadwalkan pada Rabu malam. Data ini dipandang sebagai indikator utama yang akan menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve sekaligus memicu volatilitas di berbagai aset global mulai dari dolar, emas, hingga indeks saham.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan tekanan geopolitik global, pelaku pasar kini menaruh perhatian penuh pada apakah inflasi AS benar-benar menunjukkan tren penurunan yang cukup kuat untuk membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter, atau justru kembali memberikan sinyal bahwa tekanan harga masih belum sepenuhnya mereda.

Gambaran Data Inflasi AS : Sinyal Campuran dari Ekonomi AS
Berdasarkan proyeksi pasar, inflasi inti bulanan (Core CPI) diperkirakan melambat dari 0,3% menjadi 0,2%, yang dapat menjadi indikasi bahwa tekanan harga pada sektor inti seperti jasa dan perumahan mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Jika realisasi data benar-benar lebih rendah dari ekspektasi, pasar kemungkinan akan menafsirkannya sebagai sinyal dovish bagi kebijakan moneter.
Namun di sisi lain, inflasi utama bulanan diperkirakan naik dari 0,2% menjadi 0,3%, mencerminkan adanya tekanan harga dari sektor energi dan komoditas yang belakangan kembali mengalami kenaikan tajam akibat ketegangan geopolitik global.
Sementara itu, inflasi tahunan baik untuk CPI utama maupun inti diperkirakan tetap stabil di kisaran 2,4%–2,5%, masih sedikit di atas target inflasi jangka panjang Federal Reserve sebesar 2%. Stabilnya angka ini menunjukkan bahwa meskipun inflasi telah menurun signifikan dibandingkan puncaknya beberapa tahun lalu, proses disinflasi masih berjalan secara bertahap dan belum sepenuhnya mencapai target bank sentral.
Geopolitik dan Energi: Faktor yang Menambah Kompleksitas
Data inflasi kali ini tidak berdiri sendiri. Kondisi geopolitik global turut memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran dengan sekutu Barat, telah memicu lonjakan volatilitas di pasar energi dan komoditas global.
Lonjakan harga minyak mentah beberapa waktu terakhir sempat mendorong kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat, karena energi merupakan komponen penting dalam pembentukan harga berbagai barang dan jasa. Jika tekanan harga energi terus berlanjut, maka proses penurunan inflasi yang diharapkan oleh Federal Reserve dapat berjalan lebih lambat dari yang diperkirakan pasar.
Dolar AS dan Ekspektasi Kebijakan Moneter
Pergerakan US Dollar Index akan menjadi salah satu indikator paling sensitif terhadap hasil rilis data ini. Apabila inflasi tercatat lebih tinggi dari ekspektasi, pasar kemungkinan akan mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga dan mendorong penguatan dolar. Sebaliknya, data inflasi yang lebih lemah dapat memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve akan mulai membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang.
Bagi bank sentral AS, dilema kebijakan masih cukup jelas: di satu sisi inflasi perlu ditekan hingga mencapai target, namun di sisi lain ekonomi AS juga mulai menunjukkan tanda perlambatan setelah beberapa data tenaga kerja dan aktivitas bisnis yang kurang solid dalam beberapa minggu terakhir.
Dampak ke Emas dan Pasar Saham Global
Aset safe haven seperti Gold juga diperkirakan akan mengalami volatilitas tinggi setelah rilis data CPI. Emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan dolar dan imbal hasil obligasi. Jika inflasi melambat dan dolar melemah, emas berpotensi mendapatkan dukungan kuat dari meningkatnya permintaan safe haven. Namun apabila inflasi kembali meningkat dan mendorong ekspektasi suku bunga tetap tinggi, logam mulia tersebut dapat menghadapi tekanan.
Di sisi lain, indeks saham utama seperti S&P 500 dan Nasdaq Composite juga akan sangat sensitif terhadap hasil data ini. Pasar saham umumnya merespons positif inflasi yang lebih rendah karena membuka peluang penurunan suku bunga, sementara inflasi yang lebih tinggi cenderung menekan valuasi ekuitas.
DXY dan Gambaran Teknikal

DXY terpantau bergerak di rentang 98.49 – 99.76 dengan kecenderungan pergerakan intraday H4 bergerak turun, setelah mencatatkan harga tertinggi di level 99. 70, pada tanggal 09 Maret 2026. DXY di untungkan secara fundamental atas peralihan asset terhadap USD selama perang ini berjalan. Potensi penurunan nampaknya masih terbuka pada pola pergerakan Intraday H4 dengan rentang penurunan berada di area 98.55 , 98.11 yang sekaligus area sudut kenaikan pada trendline Intraday dan sebagai Batasan riks penurunan intraday pengamatan saat ini betrada pada area 99.18
Ade Yunus, ST WPA
Global Market Strategies