Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%–4,00% dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Oktober 2026. Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara 10–2, dengan dua pejabat menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Meskipun The Fed tidak mengubah kebijakan moneternya, hasil pertemuan ini menunjukkan bahwa risiko pengetatan lanjutan masih terbuka di tengah inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Fokus pasar kini beralih pada bagaimana The Fed menyeimbangkan tekanan inflasi dengan ketahanan ekonomi AS. Sikap bank sentral yang masih berhati-hati menunjukkan bahwa pelonggaran kebijakan belum menjadi prioritas utama. Sebaliknya, suku bunga berpotensi bertahan pada level tinggi lebih lama apabila tekanan harga tetap persisten dan aktivitas ekonomi terus menunjukkan ketahanan.

Tiga Poin Penting dari FOMC
1. Inflasi Masih Menjadi Perhatian Utama
The Fed menilai inflasi masih berada di atas target 2%. Kondisi tersebut membuat bank sentral perlu mempertahankan pendekatan berbasis data sebelum menentukan arah kebijakan berikutnya.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan pasar:
- Inflasi yang kembali meningkat dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
- Penurunan inflasi yang konsisten dapat mengurangi kebutuhan pengetatan tambahan.
- Perkembangan harga energi berpotensi memengaruhi tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
2. Ketahanan Ekonomi AS Menjaga Suku Bunga Tetap Tinggi
Aktivitas ekonomi AS yang masih kuat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Selama pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja belum menunjukkan pelemahan signifikan, urgensi untuk menurunkan suku bunga cenderung terbatas.
Situasi ini berpotensi memberikan dukungan bagi dolar AS, terutama apabila data ekonomi berikutnya kembali melampaui ekspektasi pasar. Sebaliknya, pelemahan aktivitas ekonomi dapat mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan The Fed pada pertemuan Desember.
3. Perbedaan Pandangan di Internal The Fed Menjadi Sinyal Penting
Hasil pemungutan suara 10–2 memperlihatkan bahwa tidak seluruh pejabat FOMC memiliki pandangan yang sama mengenai tingkat suku bunga yang diperlukan. Dua suara yang mendukung kenaikan 25 basis poin menunjukkan bahwa sebagian pejabat masih melihat risiko inflasi sebagai alasan untuk memperketat kebijakan.
Perbedaan tersebut menjadi perhatian pasar karena arah kebijakan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, tenaga kerja, dan kondisi ekonomi AS. Oleh karena itu, keputusan mempertahankan suku bunga tidak dapat langsung diartikan sebagai sinyal bahwa siklus pengetatan telah berakhir.
Dampak terhadap Pasar Finansial
Keputusan FOMC berpotensi memengaruhi pergerakan sejumlah instrumen keuangan, terutama dolar AS, obligasi pemerintah AS, dan emas. Reaksi pasar selanjutnya akan bergantung pada apakah investor menilai sikap The Fed lebih hawkish atau lebih dovish dibandingkan ekspektasi sebelumnya.
US Dollar Index (DXY): Berpotensi mendapatkan dukungan jika ekspektasi suku bunga tinggi bertahan dan yield obligasi AS menguat. Namun, penguatan dolar tetap bergantung pada data ekonomi serta arah kebijakan bank sentral utama lainnya.
US Treasury Yield: Pergerakan yield menjadi indikator penting untuk membaca perubahan ekspektasi suku bunga. Kenaikan yield jangka pendek dapat mencerminkan meningkatnya ekspektasi pengetatan, sedangkan penurunan yield dapat mengindikasikan berkurangnya tekanan tersebut.
Emas (XAUUSD): Berpotensi menghadapi tekanan ketika dolar dan yield riil AS meningkat. Sebaliknya, pelemahan dolar, penurunan yield riil, atau meningkatnya permintaan aset safe haven dapat memberikan dukungan bagi harga emas.
Pasar Saham AS: Suku bunga tinggi berpotensi menekan valuasi saham karena meningkatkan biaya pendanaan dan tingkat diskonto. Namun, ketahanan pertumbuhan ekonomi dapat membantu menopang prospek pendapatan perusahaan.
Outlook Fundamental: DXY dan XAUUSD
- DXY — Netral dengan Kecenderungan Bullish
Dari perspektif fundamental, dolar AS memiliki peluang mempertahankan momentum apabila inflasi tetap tinggi, data ekonomi masih solid, dan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pengetatan tambahan. Kondisi tersebut dapat menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar melalui ekspektasi suku bunga dan imbal hasil yang relatif tinggi.
Meski demikian, penguatan DXY tidak berlangsung tanpa risiko. Apabila data ekonomi AS mulai melemah atau tekanan inflasi mereda lebih cepat dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat berkurang dan memicu koreksi dolar.
- XAUUSD — Berpotensi Tertekan oleh Dolar dan Yield
Harga emas masih menghadapi tantangan apabila The Fed mempertahankan sikap hawkish dan yield riil AS bergerak naik. Dalam kondisi tersebut, biaya peluang memegang emas meningkat karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Namun, prospek emas tidak sepenuhnya bearish. Ketidakpastian geopolitik, pelemahan dolar, dan penurunan yield riil dapat menjadi faktor penyeimbang. Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati hubungan antara pergerakan XAUUSD, DXY, dan yield obligasi AS sebelum menentukan strategi transaksi.
FOMC Oktober 2026 menegaskan bahwa The Fed masih memprioritaskan pengendalian inflasi di tengah ketahanan ekonomi AS. Keputusan mempertahankan suku bunga di level 3,75%–4,00% belum menutup kemungkinan pengetatan lanjutan, terutama mengingat adanya perbedaan pandangan di internal FOMC.
Bagi pasar forex, arah DXY selanjutnya akan ditentukan oleh perkembangan inflasi, data tenaga kerja, dan perubahan ekspektasi suku bunga menjelang pertemuan The Fed berikutnya. Sementara itu, emas akan tetap sensitif terhadap pergerakan dolar, yield riil AS, dan permintaan aset safe haven. Dengan demikian, pasar belum memiliki alasan kuat untuk mengasumsikan bahwa kebijakan moneter AS akan segera berbalik menjadi dovish. Investor perlu tetap waspada terhadap perubahan ekspektasi suku bunga yang dapat memicu volatilitas pada dolar, emas, obligasi, dan pasar saham.
Ade Yunus ST, WPA : Global Market Strategies