MAXCO MOBILE APPS
Portfoliomu dalam genggaman
DETAIL

Dolar Menguat Didukung Lonjakan Yield dan Harga Minyak, Ketegangan Iran Picu Volatilitas Pasar Global

Maxco Futures – Pergerakan pasar keuangan global kembali mengalami volatilitas tinggi pada perdagangan terbaru. Dolar AS menguat di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak dunia. Di saat yang sama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran terus menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen investor di berbagai kelas aset, mulai dari pasar valuta asing hingga komoditas energi dan logam mulia.

Penguatan dolar tercermin pada Indeks Dolar AS (DXY) yang naik sekitar 0,17%. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang naik sekitar 4,7 basis poin. Lonjakan imbal hasil tersebut meningkatkan daya tarik dolar AS di mata investor global karena memperlebar diferensial suku bunga dibandingkan mata uang utama lainnya.

Selain itu, reli pada harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang sempat melonjak sekitar 4% turut memberikan dukungan tambahan terhadap penguatan dolar. Harga energi yang lebih tinggi sering kali memicu kekhawatiran inflasi yang lebih kuat, sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa kebijakan moneter Federal Reserve dapat tetap mempertahankan sikap yang relatif hawkish dalam jangka pendek.

Dolar Menguat Didukung Lonjakan Yield dan Harga Minyak

Data Inflasi AS Stabil, Namun Risiko Inflasi Masih Ada

Sementara itu, data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa inflasi AS masih berada dalam jalur yang relatif stabil. Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Februari tercatat naik 0,3% secara bulanan (month-to-month) dan meningkat 2,4% secara tahunan (year-on-year).

Di sisi lain, core CPI—yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi—tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan. Angka ini memang berada di dekat level terendah dalam hampir lima tahun terakhir, tetapi masih sedikit di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2%.

Para analis menilai bahwa tekanan inflasi berpotensi meningkat kembali dalam beberapa bulan mendatang. Salah satu faktor utamanya adalah lonjakan harga energi global yang dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Lonjakan Harga Minyak Akibat Konflik Iran

Pasar energi menjadi sorotan utama investor global dalam beberapa hari terakhir. Harga minyak mentah WTI sempat melonjak tajam hingga menyentuh $119,48 per barel, level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.

Lonjakan tersebut terjadi setelah laporan bahwa Israel melakukan serangan terhadap sekitar 30 depot bahan bakar di Iran. Serangan ini memicu kekhawatiran besar mengenai potensi gangguan pasokan minyak global, terutama karena kawasan Teluk Persia merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.

Namun, reli harga minyak tidak bertahan lama. Harga kemudian mengalami koreksi tajam dan kembali ke kisaran $86 per barel setelah muncul pernyataan dari Donald Trump yang menyebutkan bahwa konflik dengan Iran kemungkinan akan segera mereda.

Selain itu, International Energy Agency (IEA) juga mengusulkan langkah besar untuk menstabilkan pasar energi global. Lembaga tersebut mengusulkan pelepasan cadangan minyak strategis sebesar 400 juta barel oleh negara-negara G-7.

Jika langkah ini disetujui, pelepasan cadangan tersebut akan menjadi salah satu intervensi terbesar dalam sejarah pasar energi global, bahkan lebih besar dibandingkan pelepasan sekitar 182 juta barel pada tahun 2022 setelah pecahnya Russian invasion of Ukraine.

Langkah ini bertujuan untuk menggantikan potensi kehilangan pasokan minyak apabila terjadi gangguan distribusi di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.

Penguatan Dolar Tekan Mata Uang Utama

Di pasar valuta asing (forex), penguatan dolar AS memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Pasangan EUR/USD tercatat melemah sekitar 0,19%. Pelemahan ini dipengaruhi oleh dua faktor utama: penguatan dolar AS serta dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian Eropa. Negara-negara di kawasan euro masih sangat bergantung pada impor energi, sehingga kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, pasangan USD/JPY naik sekitar 0,38%. Yen Jepang cenderung tertekan ketika harga energi meningkat karena Jepang merupakan salah satu negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor minyak dan gas.

Prospek Kebijakan Suku Bunga The Fed

Dari sisi kebijakan moneter, pasar swap saat ini hanya memperkirakan peluang sekitar 4% bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC berikutnya.

Namun dalam jangka panjang, prospek dolar masih dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa The Fed kemungkinan akan mulai memangkas suku bunga secara bertahap pada tahun 2026.

Sebaliknya, beberapa bank sentral utama lainnya seperti Bank Sentral Eropa dan Bank of Japan justru diperkirakan akan mulai bergerak menuju kebijakan yang lebih ketat dengan potensi kenaikan suku bunga.

Harga Emas dan Perak Koreksi Setelah Reli

Di pasar logam mulia, harga emas dan perak mengalami penurunan setelah mencatatkan reli kuat pada sesi sebelumnya. Koreksi ini terutama dipicu oleh kenaikan yield obligasi AS serta penguatan dolar, yang biasanya mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Meski demikian, permintaan terhadap aset safe haven masih memberikan dukungan terhadap harga emas. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi setelah beberapa kapal dilaporkan terkena serangan rudal di kawasan Selat Hormuz dan Teluk Persia.

Selain faktor geopolitik, permintaan emas dari bank sentral global juga tetap kuat. People’s Bank of China (PBOC) dilaporkan kembali menambah cadangan emasnya, menandai bulan ke-15 berturut-turut peningkatan kepemilikan emas.

Di sisi lain, kepemilikan ETF emas global juga telah mencapai level tertinggi dalam sekitar 3,5 tahun terakhir, menunjukkan bahwa investor masih melihat emas sebagai instrumen lindung nilai yang penting di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Ade Yunus, ST WPA
Global Market Strategies

Editor : Jordan Junior

Simulasikan
Market Sekarang!

Pegang kendali melalui
Smart Analysis Portal

Smart Analysis Portal kami menawarkan sistem yang mudah digunakan dengan berbagai fitur dan alat yang membantu pelanggan dengan berbagai gaya trading.