Maxco.co.id – Kalau ngomongin soal prediksi emas 2026, rasanya seperti lagi baca bab baru dalam buku besar ekonomi global. Dulu kita cuma fokus ke inflasi, suku bunga, atau data tenaga kerja AS. Sekarang ceritanya makin luas: dedolarisasi.
Istilahnya mungkin terdengar berat. Tapi sebenarnya ini soal satu hal sederhana: dunia mulai mempertimbangkan untuk tidak terlalu bergantung pada dolar AS. Dan setiap kali dominasi dolar mulai dipertanyakan, emas hampir selalu ikut masuk dalam pembicaraan.
Pertanyaannya sekarang: apakah de-dolarisasi benar-benar bisa jadi bahan bakar utama untuk mendorong emas mencetak all-time high baru di 2026?
Yuk kita bahas pelan-pelan.
Dunia Mulai Mengurangi Ketergantungan pada Dolar

Kita nggak sedang bicara tentang runtuhnya dolar besok pagi. Itu terlalu dramatis. Tapi kita sedang melihat pergeseran arah.
Beberapa tahun terakhir, sejumlah negara mulai:
- Menggunakan mata uang lokal untuk transaksi bilateral
- Menambah cadangan emas
- Membahas sistem pembayaran alternatif di luar USD
Fenomena ini disebut de-dollarization.
Kenapa ini penting?
Karena selama puluhan tahun, dolar adalah fondasi sistem keuangan global. Kalau fondasi mulai didiversifikasi, otomatis aset alternatif seperti emas akan mendapat perhatian lebih besar.
Dan di sinilah cerita mulai menarik.
Kenapa Setiap Kali Sistem Dipertanyakan, Emas Naik?
Emas bukan sekadar komoditas. Ia adalah simbol kepercayaan.
Saat inflasi melonjak, orang beli emas.
Saat perang pecah, orang beli emas.
Saat bank runtuh, orang beli emas.
Kenapa?
Karena emas dianggap sebagai safe haven asset. Ia tidak tergantung pada satu negara. Tidak bisa dicetak sembarangan. Tidak dipengaruhi langsung oleh kebijakan moneter tertentu.
Secara psikologis, emas memberi rasa aman.
Dan pasar keuangan sangat dipengaruhi oleh psikologi.
Hubungan Dolar dan Emas: Seperti Tarik-Menarik

Secara historis, emas dan dolar sering bergerak berlawanan arah.
Kalau dolar menguat tajam, emas cenderung tertekan.
Kalau dolar melemah, emas biasanya menguat.
Logikanya sederhana. Emas dihargai dalam USD. Jika nilai dolar turun, emas menjadi lebih menarik secara global.
Sekarang bayangkan jika tren de-dolarisasi terus berjalan sampai 2026. Permintaan global terhadap dolar bisa berkurang secara bertahap. Dan jika itu terjadi bersamaan dengan ketidakpastian ekonomi, emas bisa mendapatkan kombinasi katalis yang kuat.
Bank Sentral: Pemain Diam-Diam yang Serius
Ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian publik: pembelian emas oleh bank sentral.
Dalam beberapa tahun terakhir, bank sentral di berbagai negara meningkatkan cadangan emas mereka. Ini bukan keputusan emosional. Ini strategi jangka panjang.
Alasannya antara lain:
- Mengurangi risiko ketergantungan pada USD
- Diversifikasi cadangan
- Mengantisipasi ketegangan geopolitik
Bank sentral tidak berpikir mingguan atau bulanan. Mereka berpikir dalam horizon 10–20 tahun.
Kalau mereka menambah emas secara konsisten, itu sinyal bahwa emas masih dianggap sebagai strategic reserve asset.
Dan permintaan jangka panjang seperti ini bisa menjadi fondasi harga yang kuat menuju 2026.
Skenario Bullish: Apa yang Bisa Mendorong All-Time High?
Sekarang kita masuk ke bagian paling menarik.
Emas bisa mencetak all-time high baru jika beberapa faktor bertemu dalam satu waktu:
- De-dolarisasi makin agresif
- Suku bunga global mulai turun
- Real yield melemah
- Geopolitik kembali memanas
- Ekonomi global melambat
Kombinasi ini bisa menciptakan dorongan beli besar, baik dari investor ritel maupun institusi.
Jika investor mulai melihat emas sebagai portfolio hedge utama di tengah ketidakpastian sistemik, permintaan bisa meningkat tajam.
Dan di pasar, ekspektasi sering kali lebih kuat daripada realitas saat ini.
Skenario Netral: Emas Konsolidasi Panjang
Tidak semua jalan menuju kenaikan tajam.
Ada kemungkinan:
- De-dolarisasi berjalan lambat
- Ekonomi AS tetap kuat
- Dolar tetap dominan
- Inflasi terkendali
Dalam situasi ini, emas mungkin bergerak sideways dengan volatilitas tinggi.
Bukan turun drastis, tapi juga belum cukup katalis untuk lonjakan besar.
Jika suku bunga tetap tinggi, emas bisa menghadapi tekanan karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Artinya? Prediksi emas 2026 bukan soal kepastian, tapi soal probabilitas.
Trader dan Investor Akan Melihatnya Berbeda
Bagi trader jangka pendek, volatilitas emas adalah peluang.
Mereka fokus pada:
- Rilis data inflasi
- Keputusan suku bunga
- Level teknikal penting
- Momentum harga
Sementara investor jangka panjang lebih melihat gambaran besar. Mereka tertarik pada tema struktural seperti de-dolarisasi dan perubahan sistem moneter global.
Pendekatannya berbeda, tapi keduanya tetap membutuhkan risk management yang disiplin.
Faktor Tambahan yang Bisa Mengubah Arah

Selain de-dolarisasi, ada beberapa variabel lain yang bisa menjadi penentu:
- Kebijakan Federal Reserve
- Pertumbuhan ekonomi China
- Permintaan emas fisik di Asia
- Perkembangan central bank digital currency
Dunia keuangan modern itu seperti jaringan kompleks. Satu kebijakan bisa memicu efek domino.
Itulah kenapa membaca narasi saja tidak cukup. Data tetap harus jadi dasar.
Jadi, Akankah 2026 Jadi Tahun Emas?
Jawaban jujurnya: sangat mungkin, tapi tidak otomatis.
Dedolarisasi bisa menjadi bahan bakar. Tapi ia bukan satu-satunya faktor. Kombinasi kebijakan moneter, geopolitik, dan sentimen pasar akan menentukan seberapa jauh emas bisa melaju.
Yang jelas, dunia sedang masuk fase transisi besar. Dan dalam setiap fase transisi, emas hampir selalu mendapatkan sorotan.
Sebagai pelaku pasar, yang terpenting bukan menebak angka pasti. Tapi memahami konteks, membaca probabilitas, dan membangun strategi yang fleksibel.
Kalau kamu ingin mendapatkan insight terbaru seputar pergerakan emas, analisa pasar global yang lebih terarah, serta strategi trading yang relevan dengan dinamika saat ini, langsung saja kunjungi web Maxco .
Karena 2026 mungkin bukan sekadar tahun biasa bisa jadi itu adalah bab baru bagi emas dan sistem keuangan global.